Buku Perjuangan Tombolotutu Melawan Belanda Dibedah

170
Bedah buku Perjuangan Tombolotutu di aula eks Rektorat Universitas Tadulako, menghadirkan dua pembedah, yaitu Dr Sri Margana MPhil, Akademisi dari Universitas Gadjamada Yogyakarta dan Dr Suriadi Mappangara MHum, Akademisi dari Universitas Hassanudin Makassar.

PALU – Buku bara perlawanan di Teluk Tomini, Perjuangan Tombolotutu melawan Belanda yang ditulis Dekan FKIP Universitas Tadulako Dr Lukman Nadjamuddin dan tim dibedah, Rabu (14/2).

Bedah buku yang berlangsung di aula eks Rektorat Universitas Tadulako ini menghadirkan dua pembedah, yaitu Dr Sri Margana MPhil, Akademisi dari Universitas Gadjamada Yogyakarta dan Dr Suriadi Mappangara MHum, Akademisi dari Universitas Hassanudin Makassar.

Dr Sri Margana secara garis besar memberikan beberapa catatan dari buku setebal 256 halaman itu. Diantaranya, buku itu perlu mencantumkan biografi Tombolotutu.

Ia juga berharap kepada tim Penulis bisa mendapatkan sketsa foto dari Tombolotutu. Apalagi katanya Tombolotutu akan diusulkan sebagai Pahwalan Nasional, maka foto pahlawan tersebut menjadi prasyarat utama.

“Saya mengapresiasi kinerja tim dalam melahirkan buku ini. Hanya saja saya memberikan beberapa catatan dan masukan agar buku ini bisa disempurnakan lagi dengan mencantumkan biografi dan sketsa foto Tombolotutu,”harapnya

Dr Sri Margana menambahkan, karya Lukman Nadjamuddin dan kawan kawan ini sangat penting dilihat dari tiga aspek utama, yaitu historiografis, teoritis dan politik. Dari aspek historiografis buku ini menghadirkan banyak fakta fakta baru menarik yang selama ini belum terungkap.

“Sejarah di kawasan teluk tomini katanya memiliki lagacy atau warisan penting yang dapat menjadi modal pembangunan berbasis kawasan, yaitu terbentuknya masyarakat yang plural dengan semangat pluralismenya yang kuat,”paparnya.

Dibagian lain, Dr Suriadi Mappangara mengoreksi cover buku ini yang menurutnya kurang menarik.

“Cover yang menarik akan menarik minat orang untuk membacanya, apalagi isiinya. Saya harus katakan, bahwa cover buku ini kurang menarik,”katanya.

Dosen sejarah di Universitas Hasanuddin itu juga memberikan catatan mengenai istilah yang digunakan dalam penulisan buku ini.

“Saya tidak menemukan ada daftar istilah dalam buku ini, padahal itu penting dalam pengungkapan sejarah. Koreksi saya juga, buku ini tidak konsisten dalam penerapan catatan kaki. Termasuk penggunaan istilah perompak,”ujarnya.

Yang menarik dari penelusuran sejarah yang dituangkan dalam buku ini adalah, Tombolotutu sangat populer dikalangan masyarakat kecil dan selalu menjalin kerjasama dengan para  Olongian dan Magau untuk memobilisasi penduduk guna menentang Pemerintah Hindia Belanda.

Jenifer W. Nourse dalam artikelnya tentang orang Lauje di Tinombo mengungkapkan hal yang berlawanan dengan opini banyak orang mengenai perlawanan Tombolotutu.

Belanda tidak menginginkan Tombolotutu menjadi raja karena tidak mau bekerjasama dengan Belanda.

Sang penulis, Dr Lukman Nadjamuddin menyadari bahwa meskipun buku ini digarap dengan penuh keseriusan, namun sudah pasti terdapat kekeliruan yang sulit dihindari.

“Tentunya kritik dan saran konstruktif untuk penyempurnaan buku ini sangat dibutuhkan,”harapnya.

Rencananya, FKIP bekerjasama dengan Bappelitbangda Kabupaten Parigi Moutong akan membedah kembali buku ini bulan Juli mendatang di Kabupaten Parigi Moutong. HUMAS PEMKAB

 

LEAVE A REPLY