Tombolotutu Layak Dinobatkan Pahlawan Nasional

152

PARIGI MOUTONG – Wacana untuk menjadikan Tombolotutu sebagai Pahwalan Nasional telah disuarakan sejak Tahun 1990-an, namun upaya untuk mencapai hal itu terkendala dokumen resmi sebagai data primer. Puncaknya ketika Dr Lukman Nadjamuddin MHum menjadi pembicara sejarah dalam Seminar Internasional di Universitas Kebangsaan Malaysia Tahun 2014.

Ketika itu peserta seminar mendorong Dr Lukman Nadjamuddin untuk meneliti perjuangan Tombolotutu. Sebab diperoleh informasi, Pemerintah Belanda banyak menyimpan dokumen resmi yang bercerita tentang Tombolotutu. Sehingga pada Tahun 2017, Universitas Tadulako berkerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong menggagas sebuah penelitian yang dituangkan dalam sebuah buku Bara Perlawanan di Teluk Tomini, Perjuangan Tombolotutu melawan Belanda.

Tombolotutu

Sejak saat itu, diskusi untuk menjadikan Tombolotutu sebagai Pahlawan Nasional terus mengemuka. Tidak hanya di kalangan akademisi, harapan untuk menjadikan Tombolotutu sebagai Pahlawan Nasional juga banyak disuarakan oleh kalangan masyarakat. Salah satunya datang dari tokoh masyarakat Kabupaten Parigi Moutong, Drs H Taswin Borman MSi.

Mantan Sekda Parigi Moutong di era Bupati Longki Djanggola itu mengatakan, jika melihat historis sejarah perjuangan Tombolotutu melawan Belanda, maka Tombolotutu layak dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional.

“Berdasarkan historis sejarah perlawanan Tombolotutu melawan Belanda, menurut saya Tombolotutu layak menjadi Pahlawan Nasional,” kata Taswin Borman ketika menghadiri bedah buku Bara Perlawanan di Teluk Tomini, Perjuangan Tombolotutu Melawan Belanda di aula Fakultas Teknik Universitas Tadulako Palu, Senin (12/11).

Menurutnya, buku Bara Perlawanan di Teluk Tomini itu banyak mengulas tentang bagaimana kisah heroik yang ditunjukan Tombolotutu saat melawan Belanda. Salah satunya, ketika Pemerintah Belanda menurunkan Pasukan Marsose untuk menumpas Perlawanan Tombolotutu. Marsose adalah pasukan khusus atau pasukan elit Belanda yang pernah diturunkan saat perang Diponegoro dan perang Aceh. Kala itu pasukan Marsose yang diturunkan untuk menumpas perlawanan Tombolotutu kurang lebih berjumlah 170 pasukan “Kita sudah bisa membayangkan bagaimana kekuatan Tombolotutu saat itu, meski dengan pasukan Marsose, Belanda tidak pernah berhasil menumpas Tombolotutu. Ini data sejarah. Karena itu menurut saya Tombolotutu layak diusulkan menjadi Pahlawan Nasional,”kata Taswin Borman

Untuk menjadikan Tombolotutu sebagai Pahwalan Nasional, banyak persyaratan yang harus dipenuhi sebagaimana yang diamanatkan dalam undang-undang nomor 20 Tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan. “Buku yang dibedah ini sudah cukup baik, tinggal melengkapi autobiografi Tombolotutu dan dokumen perjuangannya,” ujar Taswin.

Ia juga mengakui bahwa sejak Tahun 1990-an di Sulawesi Tengah hanya dua tokoh pejuang kemerdekaan yang diwacanakan untuk diusulkan menjadi Pahlawan Nasional, yaitu Haji Hayun di Tolitoli dan Tombolotutu di Parigi Moutong. Ia mengusulkan perjuangan Tombolotutu yang telah dibukukan ini menjadi muatan lokal pembelajaran di sekolah, mulai dari SD, SMP hingga SMA sehingga setiap generasi dapat mengetahui sejarah perjuangan Tombolotutu. Taswin berharap, setelah semua persyaratan terpenuhi, Tombolotutu dapat segera diusulkan kepada Pemerintah pusat untuk menjadi Pahlawan Nasional.

“Pemerintah Daerah harus serius untuk segera memproses dan melengkapi persyaratan yang dibutuhkan. Saya siap membantu tenaga dan pikiran untuk mengawal menjadikan Tombolotutu sebagai Pahwalan Nasional,” tandasnya.

Acara bedah buku itu menghadirkan dua nara sumber yaitu, Prof Dr Reiza D Dienaputra MHum, sejarawan dari Universitas Pajajaran Bandung dan Dr Sarkawi SS MHum dari Univeritas Airlanggara Surabaya. Ada satu hal menarik yang disampaikan Dr Sarkawi di acara bedah buku itu. Sebelum bertolak ke Palu, ia telah membagikan beberapa buku yang akan dibedah itu kepada para mahasiswanya untuk dibaca.

“Apa yang terjadi setelah membaca buku itu, mahasiswa saya banyak yang nangis dan terharu membayangkan bagaimana heroiknya perlawanan Tombolotutu kala itu,” kata Dr Sarkawi.

Sementara itu, Dr Jamaludin yang menjadi moderator dalam acara bedah buku itu mengakhiri peranyataannya dengan satu kutipan heroik. “Langkah saya bisa kalian hentikan, tapi bara perlawanan ini tak akan bisa dihentikan,” ujar Dr Jamaludin **

LEAVE A REPLY