Disdikbud Parigi Moutong Gelar Lomba Olahraga Tradisional

7
Disdikbud Parigi Moutong menggelar lomba olahraga tradisonal dihalaman kantor Camat Parigi Barat, Kamis (25/4). Foto : Opie

PARIGI MOUTONG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Parigi Moutong menggelar lomba olahraga tradisional, dihalaman kantor Camat Parigi Barat, yang diikuti puluhan masyarakat setempat, Kamis (25/4).
Kepala Disdikbud Parigi Moutong, Adrudin Nur, yang ditemui Songulara disela-sela kegiatan mengatakan, kegiatan tersebut dilaksanakan pihaknya bekerjasama dengan masyarakat setempat, sebagai upaya melestarikan kembali permainan tradisional yang mulai ditinggalkan karena, perkembangan teknologi saat ini.
Menurut dia, sebagai langkah awal program pelestarian permainan tradisional tersebut, pihaknya menggelar sebanyak tiga jenis lomba olahraga tradisional yakni, egrang atau tilaho, sumpit dan gasing.
“Baru tiga lomba olahraga tradisional ini yang dilaksanakan sebagai langkah awal. Kami bekerjasama dengan komunitas budaya disini, untuk memfasilitasi mereka,” jelasnya.
Dia menambahkan, saat ini urusan kebudayaan telah menjadi prioritas disetiap daerah, sehingga pihaknya harus terus menggali berbagai jenis olahraga tradisional dimasing-masing wilayah di Parigi Moutong.
Saat ini di Kabupaten Parigi Moutong kata dia, ada beberapa wilayah yang komunitasnya terbilang menonjol, dan akan serta terus dilakukan pembinaan. Diantaranya eks Kecamtan Parigi, dan Malakosa Kecamatan Balinggi dan Kasimbar. Sementara wilayah utara, ada suku Lauje, Tajio dan Tialo.
“Nanti jika ada event ditingkat provinsi, pemenang lomba ini akan mewakili Kabupaten Parigi Moutong,” kata dia.
Tujuan lainnya dari kegiatan tersebut lanjut dia, sebagai upaya melestarikan bahasa Kaili, yang juga mulai tidak digunakan anak-anak zaman sekarang, sebagai bahasa hariannya. Sehingga, selain dengan cara ini pihaknya juga berkeinginan, khususnya di Kecamatan Parigi Barat mengajarkan bahasa Kaili di sekolah.
“Banyak aspek-aspek lain, disamping kita menemukan nilai-nilai budaya hingga olahraga tradisional yang juga berkaitan dengan kebudayaan. Kemudian bahasa daerahnya sendiri, agar anak-anak tetap melestarikan itu,” tuturnya.OPI

LEAVE A REPLY