Ini Koreksi Tim Penilai Adipura

57

PARIGI MOUTONG – Tim Penilai Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) telah memberikan koreksi dan catatan bagi Kota Parigi yang akan dijadikan Kota Adipura.

Tim Penilai Adipura, Rina Triany SE MAP mengatakan, ada beberapa catatan penting yang menjadi bahan koreksi untuk Pemkab Parigi Moutong, pertama adalah catatan untuk Perumahan, yang menjadi temuan adalah area permukiman yang sudah bersih namun gulma atau rumput liar tumbuh melebar menutupi trotoar yang berupa tanah.

Sehingga pejalan kaki tidak nyaman berjalan di gulma tersebut. Sarannya kata ia adalah gulma atau rumput dibersihkan atau dirapikan agar nyaman untuk pejalan kaki dan area perumahan nampak bersih.

Catatan kedua kata ia, jalan Arteri/Utama/Kolektor. Jadi temuan adalah area jalan sudah nampak bersih, fisik trotoar kurang terawat sehingga tidak nyaman untuk pejalan kaki, dan media jalan masih kelihatan kurang penghijauan. Masukan kata ia, adalah merawat Trotoar dengan cara mengecet trotoar nyaman untuk pejalan kaki, disepanjang trotar diberi sarana penerangan jalan, tempat duduk pada bangunan fisik trotoar dengan kondisi terawat serta menambah sebaran penghijauan disepanjang median jalan yang ada di Kota Parigi.

Catatatan untuk Taman Kota. Temuan terdapat sampah plastik berceceran disekitar taman, presentase area resapan taman masuk di range nilai kurang 20 persen. Tempat sampah kurang terawat, tidak ada pengomposan, toilet tidak terawat dan sarana bermain kuramg terawat. Sarannya kata ia, membersihkan area taman secara berkelanjutan, membuat komposter agar sampah dan dari rumput bisa dibuat kompos dan pupuk kompos tersebut dapat digunakan sebagai pupuk di taman, merawat tempat sampah agar pengunjung tidak membuang sampah sembarangan, membersihkan dan merawat toilet agar pengunjung dapat memanfaatkan dengan baik serta menyediakan air bersih dan menambah jenis tanaman penghijauan lebih dari 10 jenis agar area resapan bisa sampai 80 persen.

Selanjutnya untuk catatan Hutan Kota. Temuan tidak ada papan nama sebagai tanda bahwa tempat tersebut adalah Hutan Kota, tidak ada nama pohon beserta nama latinya, tidak ada tempat sampah, masih kurangnya keanekaragaman jenis pohon. Sarannya kata ia, membuat papan nama sebagai penanda bahwa tempat tersebut adalah Hutan Kota, membuat nama pohon dan nama latinnya dan menjadikan Hutan Kota sebagai sarana edukasi dan rekreasi dengan menambah Gazebo dan kursi taman.

Selanjutnya catatan untuk perkantoran. Rina mengatakan bahwa temuan untuk perkantoran terdapat sampah berserakan di sudut halaman Kantor Bupati, terdapat pembakaran sampah, tidak ada pengomposan, tidak ditemukan keberdaan kontainer penampung sampah. Penghijauan di kantor Bupati masih kurang, sebagian drainase di area kantor Bupati masih terdapat gulma dan sedimen dan kebanyakan tempat sampah sudah tidak berfungsi lagi karena tinggal tutupnya yang di pajang.

Sarannya kata ia menyiapkan kontainer 2 sudut belakang pada area Kantor Bupati, menyiapkan sarana pengomposan, menambah area resapan penghijauan dari pohon pelindung, membersihkan area kantor dan drainase secara kontinyu, dan merawat sarana tempat sampah dan menambah jumlahnya.

Catatan untuk Pasar, kata ia yang menjadi temuan adalah ditemukan pembakaran sampah, terlihat drainase dipenuhi sampah, tidak ditemukan kontainer di area pasar, ditemukan sampah berserakan dibadan jalan area pasar, TPS tidak difungsikan, tidak ada sarana tempat sampah pemilah di depan kios atau lapak penjual, toilet di dalam pasar tidak berfungsi dan tidak ada air bersih, tidak ada penghijauan di dalam area pasar dan tidak ada pengomposan untuk pengolahan sampah pasar.

Sarannya adalah kata ia, membersihkan area pasar dan drainase secara kontinyu, TPS di area pasar difungsikan agar sampah tidak berserakan dan tercecer di badan jalan lagi, toilet dibenahi lagi dan di fungsikan kembali area pasar dan menyediakan air bersih, karena diarea pasar masih ada space kosong sebaiknya di tanam penghijauan agar bisa memenuhi fungsi penghijaun di area pasar, menyediakan sarana pengomposan agar sampah pasar bisa terkelola dengan baik, dan TPS yang ada di area pasar dibenahi dan difungsikan lagi agar pasar bisa bersih dari sampah.

Selanjutnya, catatatan untuk Sekolah. Temuan, ditemukan sampah bertumpuk pada tempat tertentu, ada tempat sampah tapi jumlah tempat sampah terpilah kurang, tidak ada pengomposan, adanya air tergenang di halaman belakang sekolan, ditemukan pembakaran sampah di TPS, dan tidak mengalirnya air di toilet. Sarannya kata ia adalah menjaga kebersihan sekolah, menyediakan sarana tempat sampah terpilah sesuai jenis sampah, membuat biopori agar air tidak tergenang lagi di halaman dan menyediakan sarana bangunan fisik pengomposan di sekolah dan kelola secara berkelanjutan.

Catatan untuk Puskesmas, kata Rina temuan adalah TPS limbah medis/LB3 belum ada, tidak bangunan fisik TPS untuk sampah sejenis sampah rumah tangga atau sampah domestik yang akan diangkut ke TPA, terdapat incenerator manual yang tidak diperbolehkan beroperasi karena tidak sesuai dengan standar dan aturan dari KLHK tanpa adanya izin dari KLHK, IPAL di Puskesmas belum ada hasil uji laboratorium, masih kurangnya penghijauan dan peneduh di halaman puskesmas dan masih kurang sarana tempat sampah terpilah.Saranya kata ia adalah menyediakan sarana TPS limbah medis/B3 lengkap dengan labelnya, limbah medis dikirim atau diangkut ke tempat pemusnahan resmi/incenarator resmi (Rumah Sakit),dan IPAL sebaiknya diuji di Laboratorium lingkungan dan berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Parigi Moutong.

Selanjutnya  catatan untuk rumah sakit. Temuan halaman rumah sakit belum memenuhi fungsi peneduh dan penghijauan, ditemukan limbah medis berserakan disekitar incenerator dan tempat sampah limbah medis sudah tidak bisa menampung limbah medis yang ada. Saran adalah menanam penghijauan dan peneduh agar rumah sakit dapat memberikan udara bagi penghuni rumah sakit, pemusnahan atau pemakaian incenarator secra rutin agar limbah medis segera tertangani dan sampah medis tidak berserakan dan limbah yang tercecer tidak terkontaminasi dengan tanah, Rumah Sakit kebersihannya dijaga secara kontinyu, dan TPS limbah domestik dirawat agar sampah tidak tercecer diluar kotainer.

Catatan untuk pantai Wisata, kata ia Temuanya adalah ditemukan pembakan sampah karena tidak tersedia sarana kontainer, sarana toilet tidak bisa dimanfaatkan, masih terlihat ada sampah berceceran di area pantai wisata dan tidak ada tempat sampah terpilah yang tersedia di area pantai wisata. Sarannya adalah membersihkan pantai wisata secara kontinyu, Toilet dirawat dan menyediakan air bersih agar bisa dimanfaatkan bagi pengunjung, menyediakan sarana tempat sampah terpilah, dan menyediakan kontainer agar sampah tidak tercecer di area pantai wisata.

Catatan untuk TPA. Temuannya kata ia tidak ada aktivitas penutupan sampah karena doser rusak, adanya hewan ternak yang masuk ke TPA, para pemulung dekat zona aktif, tidak ada papan pengaturan lahan dan zona zona, tidak ada jembatan timbang, tidak ada pintu gerbang, tempat pengelolaan sampah sudah tidak beroperasi, escavator hanya satu unit tidak sebanding dengan luasan TPA dan ritasi pengangkutan sampah, tidak ada penanganan gas metan dan tidak ada pencatatan. Saranya kata ia, melakukan penimbunan sampah dengan tanah ketika truk pengangkut sampah masuk, mengeluarkan larangan untuk hewan peliharaan agar tidak masuk ke area TPA, membuat papan zonasi sampah aktif dan area sampah yang tidak aktif lagi. melakukan proses pencatatan sampah yang sudah ditimbang yang akan masuk ke TPA, menambah sarana escavator dan memperbaiki doser yang rusak atau menambah saran doser lagi, melakukan penaganan Gas Metan agar TPA tidak terbakar, membuat pintu gerbang, pemulung ditempatkan dilokasi yang jauh dari zona aktif pembangan sampah dan sarana bangunan komposting agar diaktifkan kembali supaya sampah non organik dapat dilaksanakan.

Selanjutnya Rina menambahkan bahwa kekuarangan yang ada di Kota Parigi adalah sarana kontainer sampah kurang karena Eks Kota Parigi memiliki 5 Kecamatan 38 Desa dan Kelurahan untuk melayani warganya, Petugas sampah hanya 16 orang untuk melayani daerah urban di Kota Parigi, tidak ada Bank Sampah baik sampah pusat, unit dan bank sampah yang ada di Sekolah, dan perlu ada TPST untuk memenuhi pengelohan sampah di Kota.

Perbaikan dan Pembenahannya kata ia adalah membenahi trotoar dengan cara mengecet agar wajah kota kelihatan, pertokoan dianjurkan agar menyiapkan tempat sampah di depan tokonya dan menaruh pot bunga yang berfungsi sebagai penghijauan. anak anak sekolah dianjurkan untuk memakai thumbler atau tempat air minum ke sekolah dan sekolah menyediakan air minum galon di sudut sudut sekolah. Sekolah dan perkantoran mengolah sampah daun atau sampah organik dengan cara pengomposan. Seluruh jajaran pimpinan dan ASN di Kabupaten Parigi Moutong untuk memulai pembatasan sampah plastik dengan cara beramai ramai menggunakan thumbler (inovasi). Meminta bantuan ke CSR yang ada di Kota Parigi untuk membantu menangani pengelolaan taman atau bantuan pengadaan Thumbler bagi ASN serta membentuk Bank Sampah di kelurahan atau Desa Desa yang dikelola oleh ibu ibu Dasa Wisma atau PKK atau bisa dikelola oleh Karang Taruna atau organisasi lainnya.

Selanjutnya kata Rina, Sekolah dan Perkantoran dianjurkan menyediakan tempat sampah terpilah dengan 5 jenis karena tempat sampah terpilah dengan 5 jenis berda di range nilai 80, menambah personil pengangkut sampah, menambah kontainer sampah, membentuk Tim Pokja Adipura dan membentuk Satgas Adipura untuk patroli pembakaran sampah.

Untuk Fokus ke TPA kata Rina, pintu gerbang, Pos pencatatan, Jembatan Timbang, Penutupan Sampah dengan tanah, pengomposan diaktifkan yang ada di TPA, Pagar di TPA agar hewan ternak tidak masuk ke TPA, Denah TPA dibuat dan di tempel di Kantor TPA, buku pencatatan selalu siap untuk pencatatan sampah dan pemulung disiapkan pada tempat khusus agar tidak mengganggu operasional pengelolaan TPA.

Sementara itu Tim Koordinasi Adipura Kabupaten Parigi Moutong Hamka Lagala SE MH mengatakan, dari semua koreksi yang diberikan oleh Tim Penilai Adipura, tahap demi tahap telah dan akan dibenahi oleh OPD yang ditunjuk bertanggung jawab dan dibantu oleh aparat dan stakeholder lainnya sesuai penunjukan pimpinan.

“Iya kita selesaikan pelan pelan koreksi yang diberikan oleh Tim Penilai Adipura,” Ujar Hamka, Selasa (13/8).

LEAVE A REPLY